Festival Kasada dengan Ritual Adat Tahunan di Jawa Timur 2025 – Festival Kasada adalah salah satu ritual adat tahunan yang digelar masyarakat Tengger di lereng Gunung Bromo, Jawa Timur. Acara ini bukan sekadar festival biasa, melainkan perayaan budaya yang sarat makna spiritual dan kearifan lokal. Pada tahun 2025, festival ini kembali digelar dengan antusiasme tinggi, menampilkan kombinasi tradisi kuno, ritual sakral, dan kegiatan yang memikat wisatawan domestik maupun mancanegara.
Festival Kasada bukan hanya simbol penghormatan terhadap leluhur dan dewa-dewa alam, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Sejarah dan Asal Usul Festival Kasada
Festival Kasada berasal dari tradisi masyarakat Tengger yang telah berlangsung berabad-abad. Kata Kasada sendiri diambil dari bahasa Tengger yang berarti “menghadiahkan” atau “memberikan persembahan. Festival ini biasanya digelar pada tanggal 14 bulan Kasada dalam kalender Hindu Tengger, yang jatuh sekitar bulan Juni hingga Juli setiap tahunnya.
Asal-usul festival ini berkaitan dengan legenda Roro Anteng dan Joko Seger, pasangan yang diyakini sebagai pendiri kerajaan Tengger. Menurut cerita rakyat, mereka melakukan persembahan kepada Gunung Bromo agar rakyat Tengger diberkahi kesejahteraan dan keselamatan. Sejak saat itu, ritual Kasada dijadikan tradisi tahunan, di mana masyarakat melemparkan sesaji berupa hasil bumi, hewan ternak, dan bunga ke kawah Gunung Bromo sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur.
Persiapan Festival
Persiapan Festival Kasada dimulai beberapa hari sebelum puncak acara. Masyarakat Tengger secara gotong royong menyiapkan sesaji yang akan dibawa ke kawah Gunung Bromo. Persembahan ini biasanya terdiri dari beras, jagung, sayuran, buah-buahan, hewan ternak seperti ayam atau kambing, serta bunga dan dupa. Semua sesaji dikemas dengan rapi, mengikuti tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Selain persiapan sesaji, masyarakat juga menyiapkan arak-arakan dan pakaian adat. Pria mengenakan kain jarik, ikat kepala, dan sabuk khas Tengger, sementara wanita mengenakan kebaya dan kain tenun tradisional. Musik tradisional berupa gamelan Tengger dan gending lokal dimainkan untuk menambah suasana sakral sekaligus meriah.
Rangkaian Acara Festival Kasada 2025
Festival Kasada memiliki rangkaian acara yang terstruktur dari awal hingga puncak ritual. Beberapa kegiatan utama meliputi:
1. Arak-arakan Desa ke Puncak Bromo
Pada pagi hari, warga desa mulai mengarak sesaji menuju Gunung Bromo. Proses ini dilakukan dengan jalanan kaki menanjak melewati pasir vulkanik, menambah tantangan sekaligus menumbuhkan rasa kekompakan masyarakat. Selama perjalanan, warga melantunkan doa-doa dan mantra sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan roh penjaga gunung.
2. Puncak Ritual di Kawah Gunung Bromo
Setibanya di kawah, warga melemparkan sesaji ke dalam kawah Gunung Bromo. Tradisi ini dipercaya mendatangkan berkah, keselamatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat Tengger. Beberapa kelompok juga menampilkan tarian tradisional dan doa bersama, menambah nuansa sakral sekaligus magis pada momen puncak festival.
3. Persembahan dan Doa Bersama
Selain melemparkan sesaji, warga juga melakukan doa bersama yang dipimpin oleh pemuka adat atau tetua desa. Doa ini mencakup permohonan keselamatan dari bencana alam, keberkahan untuk pertanian, kesehatan masyarakat, dan kelestarian alam sekitar Gunung Bromo. Momen ini menjadi inti spiritual dari festival Kasada.
4. Kegiatan Budaya dan Hiburan
Selain ritual utama, festival Kasada juga menampilkan pameran seni, kuliner khas Tengger, dan pertunjukan musik tradisional. Wisatawan dapat menyaksikan tarian tradisional, seperti tari Reog Tengger, serta mencoba makanan khas, seperti jagung bakar, nasi jagung, dan minuman tradisional. Hal ini menambah daya tarik festival bagi pengunjung luar daerah maupun mancanegara.
Makna Spiritual dan Filosofi Festival
Festival Kasada bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga sarana refleksi spiritual dan filosofi kehidupan masyarakat Tengger. Beberapa makna penting dari festival ini antara lain:
-
Rasa Syukur dan Penghormatan
Masyarakat melemparkan sesaji ke kawah Gunung Bromo sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan dan leluhur atas rezeki dan keselamatan yang diberikan. -
Harmoni dengan Alam
Ritual ini mengajarkan masyarakat untuk hidup selaras dengan alam, menghormati gunung, mata air, dan unsur alam lain sebagai sumber kehidupan. -
Gotong Royong dan Kekompakan
Persiapan dan pelaksanaan festival menekankan kerja sama masyarakat, memperkuat ikatan sosial dan solidaritas antarwarga. -
Warisan Budaya dan Identitas
Festival Kasada menjadi simbol identitas budaya Tengger, menjaga tradisi agar tetap hidup meskipun zaman terus berubah.
Partisipasi Wisatawan dan Dampak Ekonomi
Festival Kasada 2025 kembali menarik ribuan wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri. Kehadiran wisatawan ini membawa dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal, termasuk peningkatan pendapatan dari sektor penginapan, kuliner, transportasi, dan penjualan cendera mata. Beberapa homestay dan hotel di sekitar Bromo mengalami peningkatan okupansi hingga 90% selama festival.
Pedagang lokal menjual makanan tradisional, kerajinan tangan, dan suvenir yang terinspirasi dari budaya Tengger. Selain itu, partisipasi wisatawan juga membantu melestarikan budaya melalui dokumentasi, foto, dan cerita yang dibagikan di berbagai platform, meningkatkan kesadaran global terhadap budaya lokal.
Upaya Pelestarian dan Penyesuaian Modern
Meskipun festival Kasada berbasis tradisi, masyarakat Tengger dan pemerintah daerah melakukan penyesuaian untuk mendukung pelestarian budaya dan keamanan wisatawan. Beberapa upaya ini meliputi:
-
Pengaturan Jalur Wisata: Jalan menuju kawah Bromo diberi tanda dan pengamanan untuk meminimalkan risiko bagi peserta festival.
-
Edukasi Budaya: Pengunjung diberikan informasi tentang sejarah dan filosofi ritual, agar memahami nilai sakral di balik festival.
-
Pengelolaan Sampah dan Lingkungan: Masyarakat dan relawan menekankan kebersihan lingkungan, memastikan festival tidak merusak ekosistem sekitar gunung.
-
Integrasi Teknologi: Beberapa informasi festival dan pendaftaran wisatawan dilakukan melalui platform digital untuk mempermudah koordinasi.
Penyesuaian ini memungkinkan festival tetap otentik, tetapi lebih aman dan nyaman bagi peserta serta wisatawan.
Tantangan Festival Kasada
Pelaksanaan festival Kasada juga menghadapi beberapa tantangan, seperti:
-
Cuaca dan Letusan Gunung: Aktivitas di lereng Bromo sangat tergantung cuaca, dan potensi letusan gunung selalu menjadi perhatian.
-
Keramaian dan Keselamatan: Ribuan peserta yang hadir memerlukan pengaturan yang cermat agar tidak terjadi kecelakaan, terutama saat melempar sesaji ke kawah.
-
Pelestarian Tradisi: Meskipun modernisasi memudahkan akses dan promosi, ada risiko tradisi tersisihkan oleh komersialisasi jika tidak dijaga keseimbangannya.
Masyarakat Tengger terus bekerja sama dengan pemerintah untuk menghadapi tantangan ini, memastikan festival tetap aman, bermakna, dan lestari.
Kesimpulan
Festival Kasada 2025 menjadi bukti bahwa tradisi adat dapat tetap hidup dan relevan di era modern. Ritual tahunan ini bukan hanya momen perayaan budaya, tetapi juga sarana spiritual yang mendalam, mengajarkan rasa syukur, harmoni dengan alam, dan kebersamaan masyarakat. Dengan kombinasi ritual sakral, atraksi budaya, dan partisipasi wisatawan, Festival Kasada tidak hanya memperkuat identitas budaya Tengger, tetapi juga memberikan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan bagi masyarakat Jawa Timur. Pelestarian festival ini memastikan generasi mendatang dapat menikmati dan menghargai kearifan lokal yang kaya akan makna spiritual dan budaya.
Festival Kasada membuktikan bahwa warisan budaya dapat hidup berdampingan dengan kemajuan zaman, menjadi jembatan antara tradisi, masyarakat, dan wisatawan, serta menjadi simbol keharmonisan antara manusia dan alam.